Rumah Adat Jambi | Dekorasi, Bahan Bangunan & Keunikannya

Rumah Adat Jambi – Jambi adalah salah satu provinsi di pulau Sumatera yang terbentuk Kerajaan Melayu Jambi yang berdiri dari abad 17. Dengan berada di pesisir timur Pulau Sumatera, wilayah Jambi ini diduduki oleh suku batin.

Sedangkan selebihnya penduduk etnis yang berasal dari suku Kerinci dan Melayu Jambi, Jawa, Minangkabau, Batak, Banjar, Bugis, Sunda, Tionghoa dan lain sebagainya.

Selain itu, Jambi merupakan wilayah yang terkenal dengan literatur kuno yang bernama prasasti. Sejak dulu, buktinya sudah menunjukkan eksistensi Jambi yang mempunyai hubungan dengan bangsa China.

Provinsi ini terletak di sekitar tepian Sungai Batanghari yang dibentuk dengan berbagai kebudayaan yang berasal dari bermacam-macam ekonomi, etnik, strata sosial, dan lain sebagainya.

Keberagaman budaya tersebut bisa terlihat dari rumah adat Jambi, yang bernama rumah kajang leko. Rumah adat ini menjadi salah satu rumah yang mewakili kebudayaan suatu bangsa ataupun suku dari Jambi.

Asal-Usul Rumah Adat Jambi Kajang Leko

Rumah kajang leko berasal dari keluarga yang telah pindah ke kota Rayo. Pada awalnya, Gubernur Jambi saat itu mengadakan sayembara “sepucuk Jambi sembilan rumah” tahun 70 an.

Hal ini dikarenakan untuk mencari rumah adat yang bisa menjadi tetap di daerah Jambi. Dengan hasil sayembara itu, rumah adat kajang leko lah yang dipilih sebagai rumah adat Jambi.

Berbicara tentang rumah adat ini tak bisa menyingkirkan peran dari suku Batin. Hal ini dikarenakan suku batin merupakan suku mayoritas di provinsi Jambi pada saat itu.

Masyarakat tersebut masih menjaga adat istiadat atas peninggalan dari leluhur dan nenek moyang.

Keunikan Rumah Adat Jambi Kajang Leko

Setiap rumah pasti memiliki keunikannya tersendiri. Begitu juga dengan rumah adat kajang leko.

Ingin tahu apa saja keunikannya?

Berikut penjelasannya!

1. Susunan Rumah yang Memanjang

Di wilayah Rantau rumah adat ini dibuat di dalam satu kompleks yang bersusun memanjang. Rumah tersebut dibangun saling berhadapan yang berjarak 2 meter setiap antar rumah.

Pada bagian belakang setiap rumah terbuat dari bangunan khusus untuk menyimpan padi yang bernama bilik atau lumbung.

2. Bentuk Rumah Persegi panjang

Rumah adat ini berbentuk persegi panjang yang berukuran 12×9 meter. Pada bangunannya terdiri dari 30 tiang dengan ukuran besar. Tiang utama terdiri dari 24 tiang dan tiang pelamban 6.

Selain itu, terdapat dua anak tangga, di sebelah kanan untuk tangga utama dan kiri untuk tangga penteh. Jadi, jika ingin naik ke rumah panggung ini, maka diharuskan untuk menaiki anak tangga tersebut.

Lalu, bagian atap rumah ini cukup unik yang disebut dengan “gajah mabuk”. Bentuknya seperti perahu dengan ujung atas melengkung yang dibuat dari anyaman ijuk.

Lengkungan nya disebut lipat kajang yang dihiasi dengan ukiran cantik. Dimana, pada bagian langit-langit nya ada material yang bernama tebar layar.

Tebar layar adalah plafon yang dapat memisahkan ruangan loteng dengan ruangan lainnya. Ruangan ini sering dipakai untuk ruang penyimpanan barang, makanan dan lain sebagainya.

3. Memiliki Banyak Ruangan

Pada umumnya, rumah adat ini terdapat 8 ruangan yang memiliki fungsinya masing-masing. Berikut penjelasan ruangannya:

  • Ruang balik menahan, memiliki beberapa ruangan, yakni ruang makan, ruang tidur orang tua dan ruang para anak gadis.
  • Ruang balik melintang, ruangan yang digunakan sebagai ruang utama,  karena ruangannya dibuat lebih tinggi daripada ruangan lainnya. Akan tetapi, ruangan ini hanya boleh diduduki oleh orang tertentu saja.
  • Ruang tengah, ruangan yang berada di tengah. Biasanya diduduki oleh wanita saat upacara adat.
  • Palamban, ruangan yang berada di sebelah kiri. Bagian lantainya terbuat dari material bambu untuk mempermudah air mengalir di bawah.
  • Ruang bauman, ruang bawah yang nggak mempunyai lantai dan nggak berdinding.  Biasanya, ruangan ini dipakai untuk menyimpan barang.
  • Ruang masinding, ruangan depan yang sering dipakai untuk menerima tamu.
  • Ruang penteh, ruang bangunan atas atau plafon yang membatasi atap dengan bagian bawahnya. Biasanya, ruangan ini sering dipakai untuk menyimpan barang.
  • Ruang gaho, ruangan di sebelah kiri bangunan yang terdiri dari ruangan dapur, tempat air dan ruang penyimpanan barang.

4. Memiliki Dinding dan Pintu

Pada bagian dinding samping bangunna dibuat dari papan yang dihiasi dengan ukiran. Sedangkan, pada bagian pintunya memiliki tiga jenis pintu, yaitu pintu masinding, pintu balik melintang daun pintu tegak.

Setiap pintu tersebut mempunyai makna masing-masing, yaitu:

  • Pintu masinding,  biasanya pintu ini dipakai untuk jendela ruang tamu agar dapat melihat kebawah saat upacara adat berlangsung.
  • Pintu balik melintang, biasanya untuk jendela di bagian tiang balik melintang. Pintu ini digunakan oleh para alim ulama, pemuka adat, cerdik pandai dan ninik mamak.
  • Pintu tegak, biasanya digunakan untuk pintu masuk. Pintu tersebut dibuat rendah sehingga orang yang masuk harus menundukan kepala. Hal ini dilakukan untuk menghormati pemilik rumah.

Dekorasi Rumah Adat Jambi Kajang Leko

Rumah adat ini mempunyai dekorasi yang sangat unik dan cantik didalamnya. Bentuk dari dekorasi tersebut dihiasi dengan ukiran.

Biasanya, ciri khas yang sering dipakai yaitu motif fauna dan flora. Pada motif fauna, masyarakat Jambi sering menggunakan motif ikan.

Kenapa demikian?

Karena, banyak masyarakat Jambi yang bekerja sebagai nelayan. Sedangkan pada flora, masyarakat sering menggunakan motif bunga tanjung, bunga  jeruk dan manggis.

Untuk motif bunga tanjung, biasanya diukir di bagian masinding. Lalu, untuk motif bunga jeruk di ukit di bagian diluar rasuk dan diatas pintu.

Dimana, motif flora pada rumah adat ini melambangkan keragaman tumbuhan dan pentingnya peran hutan untuk masyarakat Jambi.

Bahan Bangunan Rumah Adat Jambi

Desain rumah adat ini seperti rumah adat panggung yang mengantisipasi bencana seperti banjir, gempa dan serangan hewan yang dapat terjadi kapan saja.

Karena memiliki bentuk seperti rumah panggung, untuk menuju rumah harus menggunakan dua tangga yang terletak di sisi kanan (akses utama) dan kiri (tangga paneh).

Konsep bangunannya berbentuk persegi panjang yang berukuran 12×9 meter. Lalu, pada bagian atap nya disebut dengan gajah mabuk yang disesuaikan dengan desainer yang sedang mabuk asmara saat itu.

Atap tersebut bernama kasau yang terbuat dari anyaman ijuk yang ukir sedemikian rupa.

Lalu, dibuat melengkung ke atas seperti perahu jerambat yang berguna untuk menahan air yang masuk. Selain itu, untuk bagian dindingnya terbuat dari kayu yang dihiasi dengan ukiran khas Jambi.

Nah, itulah penjelasan tentang asal usul rumah adat Jambi, dekorasi rumah, bahan bangunan serta memiliki keunikan dengan cita rasa seni dan budaya. Maka dari itu, sangat penting untuk melestarikan dan menjaga rumah adat yang ada di Indonesia agar terus berkembang dengan baik. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Leave a Comment

sixteen − twelve =