Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan

Makhluk hidup, seperti bakteri, binatang, manusia hingga lainnya pasti berinteraksi dengan lingkungannya. Terdapat banyak sekali contoh interaksi makhluk hidup dengan lingkungan.

Seperti manusia yang bersosialisasi dengan manusia yang lainnya, memberi dampak terhadap orang lain.

Bagaimana, mulai tertarik dengan topik ini?

Yuk, mari kita belajar bersama!

Komponen pembentuk ekosistem terdiri dari komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup (abiotik).

Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara komponen biotik dan abiotik dalam ekosistem.

Jika ditinjau dari sudut pandang ekologi, komponen biotik dan komponen abiotik ini sering disebut juga dengan lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik.

Komponen biotik dan komponen abiotik berada di suatu tempat dan berinteraksi sehingga membentuk suatu kesatuan yang teratur.

Contohnya, pada suatu ekosistem akuarium, dimana ekosistem ini terdiri atas ikan, tumbuhan air, plankton yang melayang-layang dalam air sebagai komponen biotik.

Sedangkan yang termasuk ke dalam komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral, dan oksigen yang terlarut dalam air.

Komponen Biotik – Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Komponen biotik adalah seluruh makhluk hidup yang ada dalam lingkungan seperti: hewan, tumbuhan, manusia dan organisme lainnya.

Setiap makhluk hidup tersebut memiliki kedudukan serta peran tertentu dalam lingkungan. Kedudukan makhluk hidup dalam lingkungannya disebut dengan nisia.

Menurut peranannya, komponen biotik dibedakan menjadi 3, yakni :

1. Produsen

Merupakan makhluk hidup yang bisa menghasilkan zat makanan yang diperlukan oleh organisme lainnya. Tugas ini diperankan oleh organisme yang memiliki klorofil (zat hijau daun) yaitu tumbuhan hijau.

Tumbuhan membuat zat makanan (mensintesis) dengan menggunakan bahan karbondioksida dan air melalui bantuan cahaya matahari.

Proses ini berlangsung dalam klorofil sehingga dinamakan sebagai proses fotosintesis. Tumbuhan yang bisa membuat makanan sendiri dapat disebut organisme autotrof.

Tumbuhan yang menggunakan sinar matahari dalam membantu proses fotosintesis disebut fotoautotrof.

Contohnya : pohon pisang, pohon jati, palem, pakis haji, ganggang, lumut, tumbuhan paku, dan berbagai tumbuhan biji lainnya.

Sementara, bakteri tidak menggunakan sinar matahari dalam proses pembuatan makanannya.

Melainkan menggunakan cadangan energinya dalam senyawa kimia (kemoautotrof).

2. Konsumen

Merupakan makhluk hidup yang tidak dapat membuat makanannya sendiri (organisme heterotrof). Konsumen ini bergantung pada organisme lain untuk makanannya.

Contohnya seperti : hewan, manusia, dan tumbuhan yang tidak berklorofil misalnya tali putri dan jamur.

Berdasarkan dari jenis makanannya, makhluk hidup dibedakan menjadi herbivora, karnivora dan omnivora. Herbivora merupakan organisme yang hanya memakan tumbuhan.

Misalnya sapi, kambing, zebra, kuda, gajah, rusa , ayam, dan lainnya.

Karnivora merupakan organisme yang hanya memakan hewan.

Misalnya harimau, singa, anjing, dll.

Sedangkan omnivora merupakan organisme yang memakan tumbuhan juga makan hewan.

Misalnya manusia.

3. Pengurai

Pengurai (dekomposer), bertugas menguraikan hewan dan tumbuhan yang sudah mati. Makhluk hidup yang berperan sebagai pengurai yaitu cacing, bakteri dan jamur.

Organisme pengurai sangat penting karena menjaga stabilitas ekosistem dengan mengurai zat-zat sisa menjadi unsur hara kemudian diserap oleh tanah.

Unsur hara yang ada pada tanah tersebut akan digunakan tumbuhan sebagai bahan penunjang pertumbuhannya.

Komponen Abiotik – Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Komponen abiotik adalah seluruh benda tidak hidup yang ada di dalam lingkungan.

Keberadaan komponen abiotik ini sangat berpengaruh pada jenis makhluk hidup yang menempati suatu lingkungan.

Beberapa komponen abiotik antara lain :

1. Cahaya Matahari

Sinar matahari merupakan sumber utama energi untuk seluruh organisme di bumi.

Karbondioksida (CO₂) dan air (H2O) berubah menjadi karbohidrat dan oksigen selama proses fotosintesis dengan menggunakan sinar matahari.

2. Udara

Terdiri dari berbagai jenis gas antara lain oksigen, hidrogen, karbon dioksida dan nitrogen. Seluruh organisme membutuhkan udara dalam kegiatan mereka.

Sebagai contoh, oksigen yang diperlukan selama respirasi bahwa oksida (membakar) karbohidrat agar menghasilkan energi.

Tumbuhan menggunakan karbondioksida sebagai bahan baku dalam memproduksi karbohidrat dan nitrogen untuk memproduksi protein.

3. Air

Seluruh organisme di bumi membutuhkan air untuk bertahan hidup. Tanaman, hewan dan manusia, akan dehidrasi dan mati apabila mereka kekurangan air.

Dalam tubuh manusia, air berperan sebagai pelarut yang melarutkan semua bahan yang dimakan oleh organisme. Air ini juga merupakan habitat bagi ikan dan katak.

4. Suhu

Merupakan salah satu komponen terpenting bagi organisme dalam bertahan hidup di bumi.

Setiap organisme tentunya membutuhkan rentang tertentu suhu agar bisa bertahan hidup.

Oleh sebab itu, tanaman yang hidup pada daerah panas seperti kaktus akan mati atau tumbuh buruk apabila mereka ditanam di daerah yang dingin dan sebaliknya.

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Antar Individu

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Setiap organisme Yang hidup di tempat atau habitat tertentu, maka di tempat tersebut hidup organisme lain yang sejenis.

Organisme sejenis yang hidup pada suatu tempat dalam kurun waktu tertentu disebut sebagai populasi.

Jumlah individu sejenis yang hidup di suatu tempat persatuan luas akan menunjukkan kepadatan populasi.

Untuk lokasi ditemukan individu-individu sejenis pada suatu tempat akan menunjukkan penyebaran (distribusi populasi).

Dengan bertambahnya anggota populasi, maka berarti kebutuhan hidup akan ikut juga bertambah. Bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi ditempat hidupnya, maka akan terjadi persaingan atau kompetensi.

Interaksi kompetisi antar individu dalam populasi ini disebut sebagai kompetisi intraspesifik.

Dengan adanya kompetensi ini, maka akan mengakibatkan ada individu yang memperoleh kebutuhan yang lebih sedikit sehingga akan menyebabkan migrasi (perpindahan ke tempat lain) atau kematian.

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Antar Populasi

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Bentuk interaksi antar populasi boleh berupa predasi, kompetisi dan simbiosis.

Berikut penjelasannya :

1. Predasi

Interaksi yang terjadi dari dua individu dalam populasi berbeda spesies berupa makan dan dimakan atau satu spesies memakan spesies lainnya.

Individu yang memakan disebut sebagai predator dan yang dimakan disebut sebagai mangsa.

Perbedaan antara simbiosis predasi dan simbiosis parasitisme yakni pada simbiosis parasitisme.

Biasanya parasit tidak membunuh induk inangnya, karena bila induk inang mati, maka parasit juga bakal ikut mati.

Contohnya : harimau memakan kelinci. Harimau sebagai predator dan kelinci sebagai mangsa.

2. Kompetisi

Merupakan hubungan dua populasi yang hidup bersama dan juga saling mempengaruhi. Akibat dari adanya kebutuhan-kebutuhan akan bahan yang sama, sedangkan ketersediaan dari bahan tersebut terbatas.

Contohnya : beberapa sapi dan kambing  yang bersama-sama makan rumput di padang rumput.

3. Simbiosis

Merupakan hubungan khusus antar makhluk. Simbiosis dapat dibedakan menjadi 4, yaitu simbiosis mutualisme, parasitisme, komensalisme, dan netralisme.

Yuk! simak pembahasan selanjutnya mengenai Bioma Taiga.

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Makan dan Dimakan

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Interaksi yang terjadi di suatu lingkungan pada awalnya terjadi dikarenakan faktor kebutuhan energi setiap organisme yang hidup dalam lingkungan tersebut.

Kebutuhan energi tersebut dapat terpenuhi apabila masing-masing organisme memperoleh zat-zat makanan.

Akan tetapi, tidak semua organisme di alam ini bisa menyediakan atau membuat makanannya sendiri, terkecuali tumbuhan hijau.

Karbohidrat dan oksigen hasil fotosintesis menjadi sumber energi yang akan dimanfaatkan oleh organisme lainnya yang tidak mampu membuat makanannya sendiri.

Makanan tersebut diperoleh lewat proses makan dan dimakan.

Proses makan dan dimakan ini adalah sebagai proses perpindahan zat makanan dan energi bisa dilihat dalam beberapa bentuk, diantaranya :

  • Rantai makanan
  • Jaring-jaring makanan
  • Piramida ekologi.

1. Rantai Makanan

pelajaran gambar rantai makanan
worldofghibli.id

Merupakan peristiwa makan dan dimakan yang digambarkan secara skematis dalam bentuk garis lurus searah dan tak bercabang.

Rantai makanan selalu berawal dari produsen dengan diakhiri oleh pengurai.

Bahan-bahan yang diuraikan tersebut akan digunakan kembali oleh produsen. Sehingga daur materi dan energi tidak pernah terputus.

Dalam rantai makanan, tumbuhan berperan sebagai produsen karena dapat membuat makanan lewat proses fotosintesis.

Hewan dan tumbuhan tali putri memperoleh zat organik dari organisme lain yang disebut sebagai konsumen. Konsumen boleh berupa herbivora, karnivora maupun omnivora.

Herbivora ini menempati konsumen tingkat pertama karena memakan tumbuhan secara langsung. Kalau karnivora menempati konsumen tingkat kedua karena memangsa herbivora.

Kemudian konsumen tingkat ketiga akan memangsa konsumen tingkat kedua.

Lalu konsumen tingkat keempat juga diduduki oleh karnivora lain dengan memangsa karnivora (konsumen tingkat ketiga).

Rangkaian rantai makanan dari produsen ke konsumen yang memperlihatkan tingkat makanan dalam memperoleh energi yang disebut sebagai tingkat trofik.

Tingkat trofik ini pertama diduduki oleh produsen, lalu tingkat trofik kedua diduduki oleh herbivora, kemudian tingkat trofik ketiga diduduki oleh karnivora.

Adapun tingkat trofik yang keempat adalah ditempati oleh karnivora lain (pemangsa karnivora pertama).

Rantai makanan ini terbagi lagi menjadi beberapa jenis.

Antara lain : rantai perumput, rantai detritus, rantai parasit, dan rantai saprofit. Berikut ini merupakan penjelasannya.

  • Rantai Makanan Perumput (Grazing Food Chain)

rantai-makanan-perumput
artisanalbistro.com

Rantai makanan ini lebih sering ditemukan dalam kehidupan kita. Jenis rantai makanan ini, produsen atau tingkat trofik pertamanya yaitu tumbuh-tumbuhan.

Contohnya : rantai makanan yang terjadi di sawah.

Tumbuhan sebagai organisme autotrof yang dapat menghasilkan makanan berupa padi. Tikus sawah adalah sebagai pemakan tumbuhan dengan mengkonsumsi padi.

Kemudian ular memangsa tikus sawah untuk dijadikan sebagai makanan.

Kemudian ular tersebut ditangkap oleh elang untuk dimakan. Ketika elang sudah mati, maka bangkai elang itu akan diurai oleh bakteri pengurai (dekomposer).

  • Rantai Makanan Detritus

rantai makanan detritus

Sebelum kita mempelajari mengenai rantai makanan detritus ini.

Ada baiknya kita pahami terlebih dahulu apa makna dari detritus.

Detritus adalah hancuran dari organisme hewan dan tumbuhan yang sudah mati dan sisa organisme.

Contohnya seperti : kotoran hewan, daun, ranting yang gugur dan diuraikan oleh dekomposer (pengurai).

Organisme yang mendapatkan energi dengan cara memakan sisa-sisa makhluk hidup disebut detritivor (pemakan bangkai).

Contohnya : cacing tanah, keluwing, rayap, dan lain sebagainya.

Jadi rantai makanan ini tidak dimulai dari suatu tumbuhan, melainkan dimulai dari detritivor.

Contohnya :

  1. Hancuran daun – cacing tanah – ayam – manusia.
  2. Seresah – cacing – bebek – manusia.
  • Rantai Makanan Parasit

Parasit merupakan istilah dari organisme yang hidup dengan cara merugikan organisme lainnya.

Ciri dari rantai makanan ini yaitu ditandai dengan adanya organisme kecil yang memangsa organisme yang besar.

Contohnya : darah yang berada pada tubuh kerbau dan dihisap oleh kutu yang hinggap di badan kerbau tersebut. Kemudian kutu ini dimakan oleh burung jalak, lalu elang memakan burung jalak.

  • Rantai Makanan Saprofit

Ciri-ciri dari rantai saprofit dimulai dengan penguraian jasad mati makhluk hidup oleh organisme saprofit.

Berikut yang termasuk ke dalam organisme saprofit seperti: bakteri, jamur, dan lumut kerak.

Saprofit adalah istilah dalam organisme yang mampu mengurai sisa-sisa organisme yang sudah mati.

Organisme saprofit ini berbeda dengan detritivor. Kalau saprofit mengurai bahan organik sisa jasad mati menjadi bahan anorganik berupa mineral yang diserap kembali oleh tumbuhan.

Contoh rantai makanan saprofit yaitu : Kayu lapuk – jamur – ayam – rubah.

2. Jaring-jaring Makanan

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Dalam proses makan dan dimakan yang terjadi pada alam sangat kompleks. Proses makan dan dimakan, tumbuhan yang sebagai produsen tak hanya dimakan oleh satu jenis hewan saja.

Misalnya jagung, selain bisa dimakan oleh ayam juga boleh untuk burung.

Begitu pula dengan hewan, tak hanya memakan satu jenis makanan, dan hewan tak hanya dimakan oleh satu jenis hewan lainnya.

Misalnya tikus bisa dimakan oleh ular, atau burung elang maupun rubah.

Berdasarkan fakta diatas, maka rantai makanan ini bisa berhubungan satu sama lain, sehingga membentuk hubungan kompleks yang disebut sebagai jaring-jaring makanan.

Contoh Jaring-Jaring Makanan

contoh jaring jaring makanan
thekingslau.blogspot.co.id

Berdasarkan gambar di atas, bisa kita ambil kesimpulan sederhana yaitu, bahwa dari 13 makhluk hidup yang ada pada sebuah jaring-jaring, terdapat 8 rantai makanan yang berbeda.

Pada setiap rantai makanan tersebut, paus biru dan paus pembunuh menjadi makhluk hidup konsumen puncak. Sedangkan pada rumput laut dan phytoplankton menjadi produsen dari jaring-jaring makanan tersebut

Kesimpulan

Organisme yang termasuk ke dalam siklus jaring-jaring makanan tidak mesti terlibat dalam semua rantai makanan yang terjadi.

Jaring-jaring makanan tersebut terbagi menjadi 2 bagian kelompok berdasarkan dari produsen utamanya, yakni rumput laut dan phytoplankton.

Dari jaring-jaring makanan tersebut produsennya adalah rumput laut, kepiting menjadi konsumen tingkat 1, gurita menjadi konsumen  tingkat 2, pinguin dan gajah laut sebagai konsumen 3, anjing laut sebagai konsumen tingkat 4. Sebagai konsumen tingkat terakhir adalah paus pembunuh.

Dalam siklus makanan dengan produsen phytoplankton, zooplankton dan udang merupakan konsumen tingkat 1.

Ikan kecil menjadi konsumen tingkat 2, anjing laut dan burung camar menjadi konsumen tingkat 4, paus pembunuh dan paus biru menjadi konsumen tingkat akhir.

Dalam sebuah ekosistem, ketersediaan maupun jumlah populasi organisme dalam sebuah jaring-jaring makanan akan sangat mempengaruhi dalam keseimbangan sebuah ekosistem.

Contohnya :

Ketika jumlah organisme yang menjadi produsen mengalami kepunahan, maka semua sistem jaring-jaring makanan pasti akan terganggu.

3. Piramida Ekologi

interaksi makhluk hidup dengan lingkungan piramida ekologi
zenius.net

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Dalam menjaga keseimbangan pada suatu ekosistem, jumlah organisme di tingkat trofik bawah lebih banyak dibandingkan jumlah organisme pada tingkat trofik atasnya.

Sebagai contoh pada ekosistem padang rumput. Jumlah rumput lebih banyak daripada jumlah konsumen I, begitu juga dengan jumlah konsumen I lebih banyak dibandingkan konsumen II.

Perbandingan dari jumlah antara tingkat trofik tersebut dapat membentuk suatu bangun piramida. Bangun piramida tersebut disebut sebagai piramida ekologi (piramida makanan).

Berdasarkan fungsinya, piramida ekologi ini dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

1. Piramida Jumlah

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Piramida jumlah ini didasarkan pada jumlah individu di setiap tingkatan trofik.

Organisme yang menempati tingkat dasar yaitu produsen yang selalu mempunyai jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan konsumen primer (tingkat trofik di atasnya).

Demikian juga dengan jumlah konsumen primer atau konsumen I lebih banyak daripada jumlah konsumen sekunder. Konsumen sekunder (konsumen II) ini jumlahnya juga lebih banyak daripada konsumen tersier (konsumen III).

Organisme yang berada pada puncak piramida memiliki jumlah paling sedikit dari organisme pada tingkat bawahnya.

2. Piramida Biomassa

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Jika piramida jumlah didasarkan pada jumlah individu di setiap tingkatan trofiknya, maka piramida biomassa didasarkan pada pengukuran massa individu per m² di setiap tingkatan trofik.

Biomassa adalah ukuran massa organisme yang hidup pada waktu tertentu. Biomassa di setiap tingkat trofik dihitung sebagai rata-rata massa organisme pada suatu wilayah dengan luas tertentu.

3. Piramida Energi

Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan – Piramida ekologi yang ketiga yaitu piramida energi. Seluruh energi yang ada pada bumi berasal dari matahari.

Energi cahaya matahari tersebut diubah menjadi makanan oleh produsen lewat proses fotosintesis.

Energi itu kemudian dimanfaatkan oleh konsumen primer hingga berlanjut sampai ke konsumen tersier.

Namun, tak semua konsumen memanfaatkan seluruh energi dari makanan yang diperolehnya sehingga ada pengurangan energi di setiap tingkatan trofik piramida.

***

Demikianlah pembahasan mengenai interaksi makhluk hidup dengan lingkungan yang dapat Genemil sampaikan. Semoga materi ini bisa menambah wawasan pengetahuan Anda.

Terima kasih!

Leave a Comment

1 × one =